Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Kebudayaa RI rencananya akan menetapkan Hari Pusisi Indonesia, 26 Juli sebagai salah satu hari bersejarah di Indonesia sebagaimana Hari Sumpah Pemuda, dan lainnya.
Hal tersebut mengemuka pada saat konfrensi pers yang digelar Yayasan Hari Pusisi, pada Senin, 21 Juli 2025 di Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Hadir dalam konfrensi pers tersebut, Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Diki Lukman Hakim, sedangkan dari Yayasan Hari Puisi, hadir Azrizal Nur selaku Ketua, Sofyan RH Zaid (Sekretaris), Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, Ewith Bahar, Sihar Ramses Simatupang (Publikasi) dan Moderator, Herman Syahara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Diki Lukman Hakim, bahwa puisi bukan semata kata-kata yang indah, tetapi juga denyut perjuangan Indonesia. Ditetapkanya tanggal 26 Juli sebagai Hari Pusisi Indonesia, lanjut Diki bertepatan dengan hari lahir penyair Chairil Anwar.
“Ini menjadi bagian dari sejarah sastra di Indonesia, dan PDS HB Jassin akan terus mensuport kegiatan ini,”jelas Diki Lukman Hakim.
Senada dengan Diki, Ketua Yayasan Hari Puisi Asrizal Nur menguraikan selama 13 tahun perjalanan dan liku-liku perjuangannya bersama Yayasan Hari Puisi dalam menapaki jejak sejarah sampai akan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, 26 Juli ini.
“Sebagai ketua yayasan dengan isting sebagai pejuang, terus bergerak tak kenal lelah. Setahu saya Indonesia belum ada Hari Puisi Indonesia. Dan nantinya Hari Pusisi Indonesia ini, bukan menjadi milik satu kelompok, tetapi milik semua, sehingga di daerah masing-masing dari Sabang sampai Merauke bisa merayakanya dengan dukungan pemerintah daerahnya masing-masing,”jelas Asrizal Nur.
Sementara itu, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, menegaskan bahwa Hari Pusisi Indonesia bukan milik perorangan, tetapi milik semua, tinggal bagaimana kita akan mengisisinya. Puisi itu, Lanjut Sutardji bukan sekedar kata-kata yang indah, tetapi lebih sebagai ruh. Memartabatkan puisi, berarti memartabatkan diri sendiri, unsur unsur budaya memberikan kekayaan bagi bangsa dan negara.
Sejarah Perjalanan dan Prosesi Penetapan Hari Pusisi Indonesia, 26 Juli
Hari Puisi Indonesia berawal dari pembicaraan Rida K Liamsi dan Agus R. Sarjono sepulang dari menghadiri acara Hari Puisi di Vietnam. Gagasan tersebut kemudian ditularkan kepada Asrizal Nur dan Kazzaini Ks, lalu dibincangkan secara lebih serius dengan Maman S. Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda saat mereka bertemu di Korea Selatan dalam suatu acara puisi. Sepulang dari Korea Selatan, mereka sepakat membentuk Tim Perumus yang disebut Tim Tujuh yang terdiri dari Rida K Liamsi, Agus R. Sarjono, Maman S Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Asrizal Nur, Kazzaini Ks, dan Jamal D. Rahman. Tim yang bertugas merancang, merumuskan, dan mewujudkan ide Hari Puisi Indonesia.
Kemudian pada tanggal 22 November 2012, digelarlah Pertemuan Penyair Indonesia (PPI #1) di Pekanbaru (dengan ‘tuan rumah’ Dewan Kesenian Riau) semacam ‘Focus Group Discussion (FGD)’ yang melibatkan perwakilan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Setelah melalui perdebatan yang panjang, mereka membuat kesepakatan:
Perlunya Indonesia punya hari puisi yang bisa dirayakan setiap tahun sebagai hari persatuan bangsa sebagaimana negara-negara lain di dunia. Hari Puisi Indonesia ditetapkan sebagai titik ingatan untuk merayakan eksistensi para penyair dan karyanya sebagai aset bangsa.
Pemilihan nama Hari Puisi Indonesia memakai kata kunci Indonesia bukan Nasional karena merujuk pada UNESCO yang menetapkan 21 Maret sebagai Hari Puisi Dunia, bukan Hari Puisi Internasional.
Tanggal Hari Puisi Indonesia dipilih 26 Juli yang bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, bukan hari wafatnya, 28 April. Salah satu alasannya adalah menjadikan kelahiran Chairil Anwar sebagai spirit kelahiran hari puisi yang perlu kita rayakan dengan gembira. Sebuah perayaan, tentu tidaklah etis apabila digelar di hari wafatnya.
Untuk menandai lahirnya Hari Puisi Indonesia ditandai dengan pembacaan Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang dibaca oleh Sutardji Calzoum Bachri dan didampingi oleh 40 penyair perwakilan daerah yang hadir pada hari itu, yakni: Rida K Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi (Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Agus R. Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Pandapotan MT Silagan (Sumatera Utara), Jefri Al-Malay (Riau), dan Samson Rambahpasir (Kepulauan Riau).
Berikut teks deklarasinya:
Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli
Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.
Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.
Pekanbaru, 22 November 2012
Sejak itulah, keberadaan Hari Puisi Indonesia dirayakan setiap tahunnya, baik di Jakarta oleh Yayasan Hari Puisi yang bekerja sama dengan berbagai pihak, dan di sejumlah daerah oleh berbagai komunitas sastra sesuai visi, misi, dan kemampuannya masing-masing. Perayaan Hari Puisi Indonesia di Jakarta telah melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para penyair, pelajar, guru, pejabat negara, wakil rakyat, tokoh masyarakat, dan duta besar negara sahabat. Tahun 2016, perayaan Hari Puisi Indonesia dihadiri oleh Wakil Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla.
Setiap perayaannya, Hari Puisi Indonesia digelar bersama serangkaian program dan kegiatan unggulan, antara lain: Pesta Puisi Rakyat (parade baca puisi bersama para penyair dan komunitas sastra dari berbagai daerah), Sayembara Buku Puisi Anugerah Hari Puisi Indonesia (lomba buku puisi tahunan yang rata-rata diikuti oleh 300 sampai 400 peserta), Anugerah Kepenyairan Adiluhung (penghargaan kepada penyair terpilih sebab karya dan kontribusinya kepada pengembangan puisi Indonesia), Seminar Nasional dan Internasional (membahas tema-tema terkini seputar puisi Indonesia dan korelasinya dengan perpuisian dunia). Berdasarkan sejarah, dukungan berbagai komunitas sastra, keterlibatan sejumlah kalangan, dan berbagai program serta kegiatan, Hari Puisi Indonesia telah turut merekatkan kebhinekaan bangsa dan memajukan kebudayaan Indonesia.
Tahun 2025, perayaan Hari Puisi Indonesia ke-13 dan Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2025 akan kembali digelar dengan semangat yang sama, mengusung tema:“Puisi Lahir Tak Pernah Mati”. Tema yang menyiratkan bahwa puisi selalu lahir dan hadir di tengah-tengah kita membawa semangat penyairnya yang tak pernah mati. Semangat untuk terus mendorong dan mendukung persatuan bangsa, penguatan budaya, dan pengembangan puisi Indonesia.
Atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa, pada tahun ini juga, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan RI direncanakan akan menetapkan Hari Puisi Indonesia, 26 Juli sebagai salah satu hari bersejarah di Indonesia sebagaimana Hari Sumpah Pemuda, dan lainnya. Pada momen bersejarah itulah, kami akan menggelar acara Menyongsong Prosesi Penetapan Hari Puisi Indonesia pada Sabtu, 26 Juli 2025, 15.00 – 23.00 WIB di Plaza Teater Jakarta, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Adapun rangkaian acaranya adalah:
1. Sambutan dan Pembacaan SK Penetapan Hari Puisi Indonesia, 26 Juli oleh Menteri Kebudayaan RI
2. Sambutan Dukungan Penetapan Hari Puisi Indonesia, 26 Juli oleh Kepala Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI
3. Pembacaan Puisi oleh Deklarator Hari Puisi Indonesia
4. Pembacaan oleh Pemenang Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia
5. Pembacaan Puisi oleh Pemenang Lomba Baca Puisi Hari Puisi Indonesia
6. Miusikalisasi Puisi oleh Pemenang Lomba Musikalisasi Hari Puisi Indonesia
7. Pembacaan Puisi oleh Tokoh dan Pejabat
8. Pesta Puisi Rakyat oleh Komunitas Sastra
9. Pengumuman Program Sayembara Buku Anugerah Hari Puisi Indonesia 2025
10. Pengumuman Program Anugerah Kepenyairan Adiluhung 2025
11. Dll
Untuk apa kami melakukan ini semua? Tidak ada niat lain, kecuali memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada puisi dan penyair. Puisi yang telah menjaga semangat kita berbangsa dan bernegara dalam keadaan apapun. Apalagi, sebagaimana kata Sutardji Calzoum Bachri, Indonesia ‘dilahirkan’ oleh puisi besar bernama Sumpah Pemuda. Sehingga dengan penetapan itulah, masyarakat sastra lebih luas lagi merayakan Hari Puisi Indonesia setiap tahunnya. Hari di mana kegembiraan dan kreativitas bertemu, sehingga kreasi yang inovatif dimungkinkan terjadi! Mari bersama kita teriakkan: “Puisi Lahir Tak Pernah Mati!” (rat)







