KARIMUN, kabarfaktual.id – PT TIMAH (Persero) Tbk terus berkomitmen mendorong kesadaran lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah operasionalnya. Langkah ini diwujudkan melalui pembinaan intensif terhadap kelompok Bank Sampah ‘Lanjut Berseri’ yang berlokasi di Dusun I, Desa Sawang Laut, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Melalui program sinergis ini, PT TIMAH bersama pengurus setempat bergerak aktif mengedukasi warga mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dengan cara memilah dan memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai ekonomis.
Ketua Bank Sampah Lanjut Berseri, Dedi, mengungkapkan bahwa kelompok yang baru berdiri kurang dari satu tahun ini sengaja dibentuk untuk mendobrak pola pikir lama masyarakat. Menurutnya, sampah rumah tangga tidak selamanya harus berakhir di tempat pembuangan sebagai limbah tak berguna.
“Selama ini banyak masyarakat menganggap sampah sama sekali tidak memiliki manfaat. Melalui bank sampah, kami ingin mengedukasi warga bahwa sampah rumah tangga seperti botol plastik dan kemasan bekas masih memiliki nilai jual tinggi jika dipilah dan dikelola dengan baik,” ujar Dedi.
Saat ini, Bank Sampah Lanjut Berseri digerakkan oleh lima orang pengurus dan membuka layanan setor sampah setiap hari Kamis dan Sabtu. Menariknya, selain melayani masyarakat umum, program lingkungan ini juga menyasar kalangan generasi muda demi menanamkan budaya peduli bumi sejak usia dini.
Program Menabung Sampah: Tukar Botol Plastik Jadi Alat Tulis
Salah satu inovasi unggulan kelompok ini adalah program menabung sampah yang melibatkan siswa-siswi SD Negeri 009 Sawang Laut. Melalui gerakan ini, para pelajar diajak mengumpulkan sampah plastik yang mereka temukan untuk ditabung dan nantinya ditukarkan dengan perlengkapan sekolah.
“Anak-anak diajarkan memilah sampah sejak dini. Sampah yang mereka kumpulkan dicatat sebagai tabungan, dan ketika sudah mencukupi, bisa ditukar dengan buku maupun alat tulis sekolah,” jelas Dedi.
Dedi mengakui, saat ini sampah yang terkumpul masih langsung dijual kepada pihak pengepul karena keterbatasan sarana pengolahan modern. Kendati demikian, ia bersyukur keberadaan bank sampah ini sudah membawa dampak psikologis dan perubahan kebiasaan yang sangat positif di tengah masyarakat.
“Memang saat ini kami belum memiliki alat pencacah atau fasilitas pengolahan tingkat lanjut. Namun, yang paling krusial bagi kami adalah membangun pondasi kesadaran masyarakat terlebih dahulu; bahwa sampah harus dipilah dan tidak boleh dibuang sembarangan,” tambahnya.
Dalam proses perkembangannya, Dedi menilai PT TIMAH memegang peran yang sangat sentral, baik dari sisi stimulan infrastruktur maupun edukasi berkelanjutan.
“PT TIMAH sangat membantu, mulai dari pembangunan sarana awal hingga proses pembinaan. Dengan adanya pendampingan ini, masyarakat secara bertahap mulai paham bahwa sampah yang sebelumnya dianggap barang rongsokan, ternyata bisa memberikan manfaat dan nilai ekonomi nyata,” pungkas Dedi penuh syukur. (*)







